Cerita Pendek
Agung Triatmojo
XF
|
Bunga Kejujuran
Arin tinggal di suatu
Kampung pinggir sebuah Kota. Ia hanya tinggal bersama ayah dan adiknya di gubuk
tua yang di wakafkan tetangganya untuk ditempati oleh keluarganya. Sehari hari
ayahnya bekerja sebagai tambal ban di
pinggir jalan menuju kota. Pendapatan yang sangat tidak cukup terpaksa Ia
jalani untuk menghidupi dua orang anaknya. Arin duduk di bangku SMA kelas 12,
sedangkan adiknya Cika, kelas 8 SMP.
Sebelum berangkat sekolah,
Arin membantu ayahnya menyiapkan sarapan untuk adiknya dan ayahnya, sering
sekali Arin harus mengutang terlebih dahulu kepada tetangganya dan tak heran
kalau keluarga Arin hanya makan sekali dalam sehari. Arin bisa dikatakan anak
yang pandai bergaul, walaupun Ia anak dari keluarga yang tak mampu. Ia
mempunyai sahabat yang begitu baik kepadanya. Dimata temannya Arin adalah anak
yang pandai, ia tidak kalah bersaing dengan temannya yang mempunyai fasilitas
belajar yang lebih. Ia rajin mengunjungi perpustakaan sekolahnya dan meminjam
beberapa buku untuk ia belajar dirumah.
Setelah ia pulang
sekolah, Ia langsung mengerjakan kebiasaan rutin di rumah. Ibunya meninggalkan Arin
sejak umur 9 tahun, ibunya pergi meninggalkannya begitu saja. Seringkali ia
memandangi foto ibunya karena rasa rindu terhadap ibunya tersebut. Mulai dari
menyapu, mengepel, hingga menimba air rutin ia lakukan. Tetangganya
merasa iba terhadapnya, tak jarang pakaian kotor di serahkan kepada Arin untuk
di cuci dan disetrika, hasil dari pekerjaan itu dia sisihkan untuk tabungannya
dan untuk membeli beras.
Kehidupan malam hari
sangatlah berbeda, hanya pelita yang menemani nya saat belajar, beribadah, dan
beraktivitas di malam hari. Ayahnya bukan tidak menyadari keadaan yang terjadi,
tetapi uang hasil ia menambal ban hanya cukup untuk makan dan uang saku Arin
dan adiknya setiap hari. Satu yang selalu dipikirkan ayahnya, bagaimana kalau
ia sudah tidak mampu bekerja atau bahkan sudah tiada, siapa yang akan mengurus
kedua anaknya. Arin sangat taat beribadah, setiap kali ia berdoa kepada
tuhannya, Ia hanya meminta supaya ayahnya di beri kekuatan untuk menjalani
hidup dan di beri masa depan yang indah. Ia percaya, mimpi yang disertakan
usaha akan membawanya kepada kehidupan yang lebih baik dan cita citanya
tercapai.
Guru adalah cita citanya,
karena ia bertekad untuk memajukan pendidikan bangsa walaupun kehidupan ia yang
terhimpit ekonomi tidak menghalangi semangatnya. Rasa bosan itu telah sirna
dari kehidupan Arin yang ceria. *Bisa karena biasa* itulah prinsip yang ia
tekuni selama ini.
Sore hari menjelang
malam, ayah arin pulang kerja. Saat di jalan menuju rumah, ayahnya bertemu
dengan temannya yang juga satu pekerjaan dengannya. “Hei Jafar, bagaimana
dengan penghasilan mu hari ini?”
“alhamdulilah, sedikit rezeki tak apa,
yang penting cukup untuk makan besok dan uang saku anakku”
“penghasilan mu hanya cukup untuk itu
saja? Kini hasil untuk menambal ban sudah bisa untuk membayar cicilan kontrakan
ku”
“Bagaimana bisa? Aku tahu berapa pendapatan mu
dalam sehari”
“Bisa sajalah, kini sedang marak menebar paku
di jalan, apalagi jalan menuju kota, pastilah banyak kendaraan yang lewat”
“ahh aku tidak berani, pasti paku yang disebar
akan ketahuan bahwa penambal ban yang menebarnya”
“ahh, kamu bodoh, sebelum kamu menebarnya,
kamu bakar dulu agar tampak berkarat dan sudah lama, dan menebarnya pada saat
malam hari”
“tapi itukan merugikan pengguna kendaraan”
“Jaman sekarang masih memperdulikan itu?
Apakah pejabat tinggi negara memperdulikan nasib kita? Mereka mana mau menambal
bannya di tempat kita, jika mobil mewahnya mengalami masalah, mereka akan
membawanya ke tempat yang lebih bagus!”
“tapi tetap saja itu perbuatan yang tidak
baik?”
“apa kau tidak memikirkan kedua anakmu?”
Seketika
ayah Arin berhenti, Ia sangat bingung akan hal itu. Setibanya di rumah Ia
berfikir, Arin akan lulus sekolah tahun ini, pasti Ia membutuhkan bayak uang.
Ia langsung bergegas keluar rumah untuk membeli paku, tanpa berfikir panjang
ayah Arin melakukan apa yang dilakukan oleh temannya.
Keesokan harinya, saat
ayah Arin menyiapkan peralatannya, sudah ada dua motor yang bannya bocor, Ia
langsung menambal ban tersebut.
“aduhh pak, bannya nya tertancap dua paku
pak?”
“wahh,, tumben, jarang sekali ban saya bocor,
apa ada orang yang sengaja menebar paku di jalan yah?
“wahh saya kurang tau soal menebar paku
pak”
Pendapatan
ayah Arin meningkat, Ia bisa membayar keperluan anaknya dan juga hutang
terhadap tetangganya. Setelah beberapa hari,
Arin merasa kebingungan, Ia berfikir, sepertinya pendapatan ayahnya
bertambah setiap harinya, Arin tidak mau berprasangka buruk terhdap ayahnya, Ia
berdoa supaya rezeki yang didapatkan oleh ayahnya adalah halal.
Cika
berangkat sekolah jalan kaki, Ia tidak mau berangkat bersama kakanya dengan
sepeda tua milik ayahnya karena ia malu dengan teman temannya. Di sekolah Cika
termasuk anak yang pintar, namun sikap pembohong nya yang mengaku bahwa iya
hidup mewah membuat Cika sering di tanyakan keberadaan rumahnya. Teman temannya
tidak mengetahui kalau Cika sekolah hanya menandalkan beasiswa yang di
terimanya di sekolah negeri.
Pada
saat dikelas, guru bahasa indonesia cika membuat kelompok, cika masuk dalam
kelompok bersama teman temannya yang rata rata orang tuanya memiliki kekayaan.
Cika merasa keberatan karena Ia takut kalau nanti ia kerja kelompok dirumahnya,
keadaan yang sesungguhnya akan ketahuan.
“Bu, saya tidak mau masuk dikelompok ini”
“kenapa cik? Nanti kerja kelompoknya kan
bisa dirumah kamu!”
“Iya cika kenapa kamu merasa keberatan?”
“ehh,, saya.. saya.. baiklah bu, saya
tidak jadi”
“Lohh, ada apa cika? Ceritakan saja pada
ibu “
“tidak apa bu”
Bel berbunyi tiga kali, yang menandakan
waktu untuk pulang sekolah. Cika hendak pergi ke tempat kerja ayahnya, namun
saat ia jalan menuju tempat tersebut kaki Cika tertusuk paku yang berkarat.
Masyarakat langsung menolong cika dan membawanya ke rumah. Ayahnya kaget
mendengar hal tersebut Ia terburu buru meninggalkan tepat kerjanya dan
meninggalkan pekerjaannya.
Saat ayahnya melihat cika,
ia berkata dalam hatinya,
“Tidak seharusnya aku menebar paku demi
mendapatkan uang, aku khilaf. Aku telah memberi makan anakku dengan uang haram,
mungkin ini akibat dari perbuatanku selama ini”
Ayahnya
langsung membawa cika ke puskesmas. Namun karena kurangnya alat yang memadai,
cika dilarikan kerumah sakit terdekat. Ternyata biaya yang dikeluarkan cukup
mahal, ayahnya kebingungan harus mencari uang kemana.
Ketika
cika dirawat selama beberapa hari, biaya semakin membengkak, cika tidak di
ijinkan pulang ke rumah sebelum seluruh administrasi dilunasi. Saat ayah arin
berada diloket pembayaran administrasi, ia bertemu dengan dokter yang langsung
bertanya kepada ayah arin
“ada apa pak”
“saya harus melunasi biaya administrasi
ini, sebelum anak saya dipulangkan, tetapi semakin lama ia tinggal di rumah
sakit ini, maka semakin mahal biaya yang harus dikeluarkan pak”
“Ohh.. baiklah, berapa uang yang harus
dilunasi Sus?”
“Baik pak, total biaya nya Tujuh juta lima
ratus ribu rupiah”
Dokter
tersebut membiayai seluruh biaya operasi dan biaya rawat inap. Ayah arin
bingung, kenapa dokter tersebut sangat baik dan mau menolongnya.
“Bapak masih ingat saya?”
“euhh.. saya tidak kenal bapak, tetapi
saya mengucapkan banyak banyak terima kasih terhadap bapak, saya ucapkan terima
kasih pakk”
“Berterima kasihlah terhadap allah swt
pak, saya adalah perantara rezeki dari Nya”
“Tapi apakah bapak tidak mengingat saya?”
“saya lupa”
“Saya yang sering menambal ban saya akibat
bocor di tengah jalan menuju kota, bapak sudah sering menolong saya saat ban
saya mengalami masalah”
Ayahnya
arin terdiam, Ia merasa sangat bersalah, padahal itu atas perbuatan nya
menebarkan paku, namun Allah maha adil lagi maha Pengatur, semua sudah diatur
sedemikian rupa jalan nya kehidupan ini.
Teman
sekelas cika mendengar kabar dari wali kelas, bahwa cika sakit. Temannya
langsung menjenguk cika dirumahnya sambil membawa bingkisan buah dan segala
rupa. Saat sampai dirumah cika, teman teman cika kaget karena melihat rumah di
daerah yang kumuh. Niatnya untuk menjenguk cika, teman teman cika tidak
memperdulikan tersebut, mereka tetap masuk ke dalam dan melihat keadan cika.
Didalam
kamar cika menutupi wajahnya dengan bantal dan memalingkan wajahnya dari teman
temannya. Ia merasa sangat malu, karena telah berbohong. Namun Arin menasehati
cika agar Ia menerima teman temannya untuk mnjenguk dia.
“Maafkan aku, aku telah berbohong terhadap
kalian, aku hanyalah seorang anak tukang tambal ban, bukan anak seorang
konglomerat seperti kalian, aku tidak mau direndahkan oleh kalian”
“Memang awalnya kami merasa kesal atas
sikap kamu yang pembual, tetapi kami dapat memaklumi perbuatan mu itu kok, kami
juga tidak menghiraukan masalah ini”
“jadi kalian mau memaafkan aku?”
“iya, cepatlah sembuh dan kembali
bersekolah. Dan berjanji tidak akan berbohong kepada kami, katakanlah
sejujurnya kepada kami. Pada dasarnya yang kaya adalah orang tua kami, bukanlah
kami.”
Cika
dan Arin berangkat bersama ke sekolah. Pada saat disekolah Arin bersama
temannya melihat kerumunan orang orang pada mading sekolah. Saat iya melihat
pengumuman tersebut yang berisi tentang perlombaan menanam bunga terindah untuk
memperebutkan sejumlah uang yang cukup banyak dan akan menjadi bintang sekolah.
Berbagai persyaratan dan taktik penjurian telah ditentukan oleh panitia
perlombaan. Arin berniat mengikuti perlombaan tersebut, sejumlah uang yang
diraih akan sedikit membantu keadaan rumah. Semua persyaratan telah diserahkan
kepada panitia .
Setiap
peserta diberikan dua benih bunga yang harus dirawat hingga berbunga. Penilaian
dilihat dari keindahan bunga, banyaknya bunga , dan juga kreativitas
merangkainya. Di mulai dari bulan juli dan penjurian akan dilaksanakan bulan Desember
atau kenaikan kelas.
Arin
bergegas pulang kerumah dan menanamnya pada pot yang dibelinya dipingir jalan.
Setiap harinya ia menyiram tanaman dengan cukup air, dan juga diletakan pada
tempat yang tidak terkena terik matahari langsung. Semua teknik menanam bunga
telah ia pelajari saat iya meminjam buku di perpustakaan di sekolahnya.
Sebulan
berlalu, tidak tampak secuilpun muncul akar ataupun batang muda dari pot
tersebut. Ia periksa ulang letak benih tersebut dan menanam kembali. Ia siram
dan memberi pupuk sesuai teknik.
Tiga
bulan berlalu, Kegelisahan pun datang, banyak pikiran yang melintas pada
otaknya, apakah benih tersebut benar benar akan tumbuh dalam aktu 6 bulan,
apakah benih itu sudah mati? Ia melihat peserta lain, ternyata sudah tumbuh
batang, daun, dan bunga yang masih kuncup. Arin merasa heran dengan benih yang
ditanamnya, semua teknik yang ia baca pada buku perpustakaan sudah ia lakukan
dengan baik dan benar, tetapi sampai saat ini benih belum lah berkembang
sedikit pun.
Setelah
enam bulan berlalu, dan arin hanya memiliki waktu satu hari sbelum hari
penjurian. Patah semangat yang ia rasa semakin menjadi jadi. Pasalnya pada
benih yang ia tanam tidak ada tanda tanda akan tumbuh. Keesokan harinya,
tibalah hari penjurian penanaman benih bunga. Semua datang dengan ceria membawa
benih bungan yang ditanam kesayangan mereka masing. Semua berbaris menghadap
meja penjurian dan memegang pot yang berisikan bungan bungan yang warna warni
dan sangat indah. Tetapi saat arin datang dengan hanya membawa pot yang
terdapat tanah saja, semua peserta menengok kearahnya
“bisa menanam bunga ga sih?”
“Iya, kalo ga bisa merawat bunga ga usah
ikut lomba ini kali!”
Sambil
tersenyum melihat bunga mereka masing masing, mereka mengucilkan arin. Mental
arin semakin ngedrop, Air mata yang turun dari paras cantiknya tak kunjung
berhenti. Akhirnya Arin meninggalkan potnya dilapangan dan berlari menuju kamar
mandi. Juri pun hadir beserta panitia lomba.
Satu
demi satu bunga diberikan kepada juri. Karena hampir semua peserta menyerahkan
bunga dengan indah, juri sampai sulit menentukan juaranya. Namun panitia lomba
dan guru pembina tampak murung dan cemberut. Tidak ada tampang keceriaan dari
wajah mereka, padahal setiap peserta telah melakukan tugasnya dengan sangat
baik. Guru pembina mengitari barisan peserta dari depan hingga barisan
belakang.
Ya,
guru pembina tetap saja murung dan tampak lesu, hingga Ia melihat poy yang
tergeletak dilapangan dan tidak ada orang yang memegangnya. Ia langsung
mengambil pot tersebut dan ke depan meja penjurian.
“Pot ini milik siap?”
“bukan saya”
“itu mahh bukan punya saya”
Semua peserta berkata
hal yang sama, mendengar yang dikatakan guru pembina, arin mengangkat
tangannya dan berkata
“itu milik saya pak, maaf pak saya
meninggalkannya sembarangan”
“ini punya kamu, kesini ambilah pot mu
ini”
Arin
segera berlari ke depan lapangan dan mengambil potnya, seraya mengelap air
matanya. Guru pembina tidaklah lagi berwajah murung
, melainkan kecerian datang dengan
singkatnya.
“Baiklah para peserta saya telah dapat
pemenang lomba ini yang akan mendapatkan sejumlah uang yang tidak sedikit dan
akan menjadi bintan sekolah tahun ini”
Semua
peserta merasa deg deg an, karena akan di umumkan pemenang dalam lomba itu,
tetapi arin hanya menundukkan kepalanya.
“Dengan ini pemenang dalam lomba ini
adalahArin dengan nomor urut 033 dari kelas XII Ipa 2”
Semuanya
langsung terkejut mendengar hal itu, seakan tidak percaya dengan pengumuman
tadi, arin langsung menengok ke arah guru pembina karena heran kenapa ia bisa
menjadi juaranya.
“Ini tidak mungkin, mana mungkin ot yang
hanya berisikan tanah bisa menjuarai lomba ini”
“Iyahh, ini tidak adil, nenek nenek
jungkir balik juga tahu kalau dia ga bakalan menang”
Arin masih tidak percaya
bahwa dia adalah pemenangnya. Lalu guru pembina menjelaskan mengapa hal ini
bisa terjadi
“Kalian pasti akan tercengang mendengarkan
hal ini, yahh Arin lah pemenangnya, Ia pantas menjadi bintang sekolah, karena
kejujurannya lah yang mengantarkannya menjadi juara”
“kejujuran?? Maksud bapak??”
“Yah, kejujuran, semuanya sudah saya atur
sedemikian rupa dalam memrogramkan perlombaan ini”
“saya masih tidak mengerti maksud anda
pak??”
“Saya telah menggoreng benih bunga
tersebut, sebelum perlombaan ini dimulai. Menurut ilmiah, benih bunga yang
telah digoreng tersebut mana mungkin tumbuh, apalagi berbunga dengan indah”
Arin
masih tidak mengerti, dan bertanya
“tapi mengapa peserta lain bisa tumbuh dan
berbunga indah??”
“Sudah gampang untuk ditebak, mereka telah
menggantikan benih bunga yang telah panitia berikan dengan benih yang lain, dan
mungkin untuk beberapa peserta membeli jadi bunga yang indah”
Arin
pun tersenyum gembira, ternyata kejujuran yang iya selalu lakukan menolongnya
pada sebuah jalan yang menyenangkan untuknya. Hasil kejujurannya tersebut dapat
memiliki sejumlah uang hadiah dan menjadi bintang sekolah.
Rentetan masalah terus
terjadi pada keluarga kecil ini, namun sering waktu masalah tersebut luntur
dengan sendirinya.
~Selesai~
Nahh itu cerpen asli buatan gw, kalo mau copas jgn dijadiin hak cipta. Terima
kasih udah baca cerpan gw. Tunggu cerpen dan postingan gw lainnya yah.. See
you!!!!