Jumat, 01 Juni 2012

Cerpen



Text Box: Iopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopas~agung~xcvbnmrtyuiopasdfghjklzxcvbnmq~triatmojo~sdfghjklzxcvbnmqwe~XF~rtyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuio~cerpen~pasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmrtyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmrtyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmrtyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmrtyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmrtyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmrtyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnm



Cerita Pendek



Agung Triatmojo



XF





  








Bunga Kejujuran
oleh : @ate_mojo


Arin tinggal di suatu Kampung pinggir sebuah Kota. Ia hanya tinggal bersama ayah dan adiknya di gubuk tua yang di wakafkan tetangganya untuk ditempati oleh keluarganya. Sehari hari ayahnya  bekerja sebagai tambal ban di pinggir jalan menuju kota. Pendapatan yang sangat tidak cukup terpaksa Ia jalani untuk menghidupi dua orang anaknya. Arin duduk di bangku SMA kelas 12, sedangkan adiknya Cika, kelas 8 SMP.
Sebelum berangkat sekolah, Arin membantu ayahnya menyiapkan sarapan untuk adiknya dan ayahnya, sering sekali Arin harus mengutang terlebih dahulu kepada tetangganya dan tak heran kalau keluarga Arin hanya makan sekali dalam sehari. Arin bisa dikatakan anak yang pandai bergaul, walaupun Ia anak dari keluarga yang tak mampu. Ia mempunyai sahabat yang begitu baik kepadanya. Dimata temannya Arin adalah anak yang pandai, ia tidak kalah bersaing dengan temannya yang mempunyai fasilitas belajar yang lebih. Ia rajin mengunjungi perpustakaan sekolahnya dan meminjam beberapa buku untuk ia belajar dirumah.
Setelah ia pulang sekolah, Ia langsung mengerjakan kebiasaan rutin di rumah. Ibunya meninggalkan Arin sejak umur 9 tahun, ibunya pergi meninggalkannya begitu saja. Seringkali ia memandangi foto ibunya karena rasa rindu terhadap ibunya tersebut. Mulai dari  menyapu, mengepel, hingga menimba air rutin ia lakukan. Tetangganya merasa iba terhadapnya, tak jarang pakaian kotor di serahkan kepada Arin untuk di cuci dan disetrika, hasil dari pekerjaan itu dia sisihkan untuk tabungannya dan untuk membeli beras.
Kehidupan malam hari sangatlah berbeda, hanya pelita yang menemani nya saat belajar, beribadah, dan beraktivitas di malam hari. Ayahnya bukan tidak menyadari keadaan yang terjadi, tetapi uang hasil ia menambal ban hanya cukup untuk makan dan uang saku Arin dan adiknya setiap hari. Satu yang selalu dipikirkan ayahnya, bagaimana kalau ia sudah tidak mampu bekerja atau bahkan sudah tiada, siapa yang akan mengurus kedua anaknya. Arin sangat taat beribadah, setiap kali ia berdoa kepada tuhannya, Ia hanya meminta supaya ayahnya di beri kekuatan untuk menjalani hidup dan di beri masa depan yang indah. Ia percaya, mimpi yang disertakan usaha akan membawanya kepada kehidupan yang lebih baik dan cita citanya tercapai.
Guru adalah cita citanya, karena ia bertekad untuk memajukan pendidikan bangsa walaupun kehidupan ia yang terhimpit ekonomi tidak menghalangi semangatnya. Rasa bosan itu telah sirna dari kehidupan Arin yang  ceria. *Bisa karena biasa* itulah prinsip yang ia tekuni selama ini.
Sore hari menjelang malam, ayah arin pulang kerja. Saat di jalan menuju rumah, ayahnya bertemu dengan temannya yang juga satu pekerjaan dengannya. “Hei Jafar, bagaimana dengan penghasilan mu hari ini?”
“alhamdulilah, sedikit rezeki tak apa, yang penting cukup untuk makan besok dan uang saku anakku”
“penghasilan mu hanya cukup untuk itu saja? Kini hasil untuk menambal ban sudah bisa untuk membayar cicilan kontrakan ku”
 “Bagaimana bisa? Aku tahu berapa pendapatan mu dalam sehari”
 “Bisa sajalah, kini sedang marak menebar paku di jalan, apalagi jalan menuju kota, pastilah banyak kendaraan yang lewat”
 “ahh aku tidak berani, pasti paku yang disebar akan ketahuan bahwa penambal ban yang menebarnya”
 “ahh, kamu bodoh, sebelum kamu menebarnya, kamu bakar dulu agar tampak berkarat dan sudah lama, dan menebarnya pada saat malam hari”
“tapi itukan merugikan pengguna kendaraan”
“Jaman sekarang masih memperdulikan itu? Apakah pejabat tinggi negara memperdulikan nasib kita? Mereka mana mau menambal bannya di tempat kita, jika mobil mewahnya mengalami masalah, mereka akan membawanya ke tempat yang lebih bagus!”
“tapi tetap saja itu perbuatan yang tidak baik?”
“apa kau tidak memikirkan kedua anakmu?”
          Seketika ayah Arin berhenti, Ia sangat bingung akan hal itu. Setibanya di rumah Ia berfikir, Arin akan lulus sekolah tahun ini, pasti Ia membutuhkan bayak uang. Ia langsung bergegas keluar rumah untuk membeli paku, tanpa berfikir panjang ayah Arin melakukan apa yang dilakukan oleh temannya.
Keesokan harinya, saat ayah Arin menyiapkan peralatannya, sudah ada dua motor yang bannya bocor, Ia langsung menambal ban tersebut.
“aduhh pak, bannya nya tertancap dua paku pak?”
“wahh,, tumben, jarang sekali ban saya bocor, apa ada orang yang sengaja menebar paku di jalan yah?
“wahh saya kurang tau soal menebar paku pak”
          Pendapatan ayah Arin meningkat, Ia bisa membayar keperluan anaknya dan juga hutang terhadap tetangganya. Setelah beberapa hari,  Arin merasa kebingungan, Ia berfikir, sepertinya pendapatan ayahnya bertambah setiap harinya, Arin tidak mau berprasangka buruk terhdap ayahnya, Ia berdoa supaya rezeki yang didapatkan oleh ayahnya adalah halal.
          Cika berangkat sekolah jalan kaki, Ia tidak mau berangkat bersama kakanya dengan sepeda tua milik ayahnya karena ia malu dengan teman temannya. Di sekolah Cika termasuk anak yang pintar, namun sikap pembohong nya yang mengaku bahwa iya hidup mewah membuat Cika sering di tanyakan keberadaan rumahnya. Teman temannya tidak mengetahui kalau Cika sekolah hanya menandalkan beasiswa yang di terimanya di sekolah negeri.
          Pada saat dikelas, guru bahasa indonesia cika membuat kelompok, cika masuk dalam kelompok bersama teman temannya yang rata rata orang tuanya memiliki kekayaan. Cika merasa keberatan karena Ia takut kalau nanti ia kerja kelompok dirumahnya, keadaan yang sesungguhnya akan ketahuan.
“Bu, saya tidak mau masuk dikelompok ini”
“kenapa cik? Nanti kerja kelompoknya kan bisa dirumah kamu!”
“Iya cika kenapa kamu merasa keberatan?”
“ehh,, saya.. saya.. baiklah bu, saya tidak jadi”
“Lohh, ada apa cika? Ceritakan saja pada ibu “
“tidak apa bu”
Bel berbunyi tiga kali, yang menandakan waktu untuk pulang sekolah. Cika hendak pergi ke tempat kerja ayahnya, namun saat ia jalan menuju tempat tersebut kaki Cika tertusuk paku yang berkarat. Masyarakat langsung menolong cika dan membawanya ke rumah. Ayahnya kaget mendengar hal tersebut Ia terburu buru meninggalkan tepat kerjanya dan meninggalkan pekerjaannya.
Saat ayahnya melihat cika,  ia berkata dalam hatinya,
“Tidak seharusnya aku menebar paku demi mendapatkan uang, aku khilaf. Aku telah memberi makan anakku dengan uang haram, mungkin ini akibat dari perbuatanku selama ini”
          Ayahnya langsung membawa cika ke puskesmas. Namun karena kurangnya alat yang memadai, cika dilarikan kerumah sakit terdekat. Ternyata biaya yang dikeluarkan cukup mahal, ayahnya kebingungan harus mencari uang kemana.
          Ketika cika dirawat selama beberapa hari, biaya semakin membengkak, cika tidak di ijinkan pulang ke rumah sebelum seluruh administrasi dilunasi. Saat ayah arin berada diloket pembayaran administrasi, ia bertemu dengan dokter yang langsung bertanya kepada ayah arin
“ada apa pak”
“saya harus melunasi biaya administrasi ini, sebelum anak saya dipulangkan, tetapi semakin lama ia tinggal di rumah sakit ini, maka semakin mahal biaya yang harus dikeluarkan pak”
“Ohh.. baiklah, berapa uang yang harus dilunasi Sus?”
“Baik pak, total biaya nya Tujuh juta lima ratus ribu rupiah”
          Dokter tersebut membiayai seluruh biaya operasi dan biaya rawat inap. Ayah arin bingung, kenapa dokter tersebut sangat baik dan mau menolongnya.
“Bapak masih ingat saya?”
“euhh.. saya tidak kenal bapak, tetapi saya mengucapkan banyak banyak terima kasih terhadap bapak, saya ucapkan terima kasih pakk”
“Berterima kasihlah terhadap allah swt pak, saya adalah perantara rezeki dari Nya”
“Tapi apakah bapak tidak mengingat saya?”
“saya lupa”
“Saya yang sering menambal ban saya akibat bocor di tengah jalan menuju kota, bapak sudah sering menolong saya saat ban saya mengalami masalah”
          Ayahnya arin terdiam, Ia merasa sangat bersalah, padahal itu atas perbuatan nya menebarkan paku, namun Allah maha adil lagi maha Pengatur, semua sudah diatur sedemikian rupa jalan nya kehidupan ini.
          Teman sekelas cika mendengar kabar dari wali kelas, bahwa cika sakit. Temannya langsung menjenguk cika dirumahnya sambil membawa bingkisan buah dan segala rupa. Saat sampai dirumah cika, teman teman cika kaget karena melihat rumah di daerah yang kumuh. Niatnya untuk menjenguk cika, teman teman cika tidak memperdulikan tersebut, mereka tetap masuk ke dalam dan melihat keadan cika.
          Didalam kamar cika menutupi wajahnya dengan bantal dan memalingkan wajahnya dari teman temannya. Ia merasa sangat malu, karena telah berbohong. Namun Arin menasehati cika agar Ia menerima teman temannya untuk mnjenguk dia.
“Maafkan aku, aku telah berbohong terhadap kalian, aku hanyalah seorang anak tukang tambal ban, bukan anak seorang konglomerat seperti kalian, aku tidak mau direndahkan oleh kalian”
“Memang awalnya kami merasa kesal atas sikap kamu yang pembual, tetapi kami dapat memaklumi perbuatan mu itu kok, kami juga tidak menghiraukan masalah ini”
“jadi kalian mau memaafkan aku?”
“iya, cepatlah sembuh dan kembali bersekolah. Dan berjanji tidak akan berbohong kepada kami, katakanlah sejujurnya kepada kami. Pada dasarnya yang kaya adalah orang tua kami, bukanlah kami.”
          Cika dan Arin berangkat bersama ke sekolah. Pada saat disekolah Arin bersama temannya melihat kerumunan orang orang pada mading sekolah. Saat iya melihat pengumuman tersebut yang berisi tentang perlombaan menanam bunga terindah untuk memperebutkan sejumlah uang yang cukup banyak dan akan menjadi bintang sekolah. Berbagai persyaratan dan taktik penjurian telah ditentukan oleh panitia perlombaan. Arin berniat mengikuti perlombaan tersebut, sejumlah uang yang diraih akan sedikit membantu keadaan rumah. Semua persyaratan telah diserahkan kepada panitia .
          Setiap peserta diberikan dua benih bunga yang harus dirawat hingga berbunga. Penilaian dilihat dari keindahan bunga, banyaknya bunga , dan juga kreativitas merangkainya. Di mulai dari bulan juli dan penjurian akan dilaksanakan bulan Desember atau kenaikan kelas.
          Arin bergegas pulang kerumah dan menanamnya pada pot yang dibelinya dipingir jalan. Setiap harinya ia menyiram tanaman dengan cukup air, dan juga diletakan pada tempat yang tidak terkena terik matahari langsung. Semua teknik menanam bunga telah ia pelajari saat iya meminjam buku di perpustakaan di sekolahnya.
          Sebulan berlalu, tidak tampak secuilpun muncul akar ataupun batang muda dari pot tersebut. Ia periksa ulang letak benih tersebut dan menanam kembali. Ia siram dan memberi pupuk sesuai teknik.
          Tiga bulan berlalu, Kegelisahan pun datang, banyak pikiran yang melintas pada otaknya, apakah benih tersebut benar benar akan tumbuh dalam aktu 6 bulan, apakah benih itu sudah mati? Ia melihat peserta lain, ternyata sudah tumbuh batang, daun, dan bunga yang masih kuncup. Arin merasa heran dengan benih yang ditanamnya, semua teknik yang ia baca pada buku perpustakaan sudah ia lakukan dengan baik dan benar, tetapi sampai saat ini benih belum lah berkembang sedikit pun.
          Setelah enam bulan berlalu, dan arin hanya memiliki waktu satu hari sbelum hari penjurian. Patah semangat yang ia rasa semakin menjadi jadi. Pasalnya pada benih yang ia tanam tidak ada tanda tanda akan tumbuh. Keesokan harinya, tibalah hari penjurian penanaman benih bunga. Semua datang dengan ceria membawa benih bungan yang ditanam kesayangan mereka masing. Semua berbaris menghadap meja penjurian dan memegang pot yang berisikan bungan bungan yang warna warni dan sangat indah. Tetapi saat arin datang dengan hanya membawa pot yang terdapat tanah saja, semua peserta menengok kearahnya
“bisa menanam bunga ga sih?”
“Iya, kalo ga bisa merawat bunga ga usah ikut lomba ini kali!”
          Sambil tersenyum melihat bunga mereka masing masing, mereka mengucilkan arin. Mental arin semakin ngedrop, Air mata yang turun dari paras cantiknya tak kunjung berhenti. Akhirnya Arin meninggalkan potnya dilapangan dan berlari menuju kamar mandi. Juri pun hadir beserta panitia lomba.
          Satu demi satu bunga diberikan kepada juri. Karena hampir semua peserta menyerahkan bunga dengan indah, juri sampai sulit menentukan juaranya. Namun panitia lomba dan guru pembina tampak murung dan cemberut. Tidak ada tampang keceriaan dari wajah mereka, padahal setiap peserta telah melakukan tugasnya dengan sangat baik. Guru pembina mengitari barisan peserta dari depan hingga barisan belakang.
          Ya, guru pembina tetap saja murung dan tampak lesu, hingga Ia melihat poy yang tergeletak dilapangan dan tidak ada orang yang memegangnya. Ia langsung mengambil pot tersebut dan ke depan meja penjurian.
“Pot ini milik siap?”
“bukan saya”
“itu mahh bukan punya saya”
Semua peserta berkata hal yang sama, mendengar yang dikatakan guru pembina, arin mengangkat tangannya  dan berkata
“itu milik saya pak, maaf pak saya meninggalkannya sembarangan”
“ini punya kamu, kesini ambilah pot mu ini”
          Arin segera berlari ke depan lapangan dan mengambil potnya, seraya mengelap air matanya. Guru pembina tidaklah lagi berwajah murung
, melainkan kecerian datang dengan singkatnya.
“Baiklah para peserta saya telah dapat pemenang lomba ini yang akan mendapatkan sejumlah uang yang tidak sedikit dan akan menjadi bintan sekolah tahun ini”
          Semua peserta merasa deg deg an, karena akan di umumkan pemenang dalam lomba itu, tetapi arin hanya menundukkan kepalanya.
“Dengan ini pemenang dalam lomba ini adalahArin dengan nomor urut 033 dari kelas XII Ipa 2”
          Semuanya langsung terkejut mendengar hal itu, seakan tidak percaya dengan pengumuman tadi, arin langsung menengok ke arah guru pembina karena heran kenapa ia bisa menjadi juaranya.
“Ini tidak mungkin, mana mungkin ot yang hanya berisikan tanah bisa menjuarai lomba ini”
“Iyahh, ini tidak adil, nenek nenek jungkir balik juga tahu kalau dia ga bakalan menang”
Arin masih tidak percaya bahwa dia adalah pemenangnya. Lalu guru pembina menjelaskan mengapa hal ini bisa terjadi
“Kalian pasti akan tercengang mendengarkan hal ini, yahh Arin lah pemenangnya, Ia pantas menjadi bintang sekolah, karena kejujurannya lah yang mengantarkannya menjadi juara”
“kejujuran?? Maksud bapak??”
“Yah, kejujuran, semuanya sudah saya atur sedemikian rupa dalam memrogramkan perlombaan ini”
“saya masih tidak mengerti maksud anda pak??”
“Saya telah menggoreng benih bunga tersebut, sebelum perlombaan ini dimulai. Menurut ilmiah, benih bunga yang telah digoreng tersebut mana mungkin tumbuh, apalagi berbunga dengan indah”
          Arin masih tidak mengerti, dan bertanya
“tapi mengapa peserta lain bisa tumbuh dan berbunga indah??”
“Sudah gampang untuk ditebak, mereka telah menggantikan benih bunga yang telah panitia berikan dengan benih yang lain, dan mungkin untuk beberapa peserta membeli jadi bunga yang indah”
          Arin pun tersenyum gembira, ternyata kejujuran yang iya selalu lakukan menolongnya pada sebuah jalan yang menyenangkan untuknya. Hasil kejujurannya tersebut dapat memiliki sejumlah uang hadiah dan menjadi bintang sekolah.
Rentetan masalah terus terjadi pada keluarga kecil ini, namun sering waktu masalah tersebut luntur dengan sendirinya.
 ~Selesai~
      Nahh itu cerpen asli buatan gw, kalo mau copas jgn dijadiin hak cipta. Terima
kasih udah baca cerpan gw. Tunggu cerpen dan postingan gw lainnya yah.. See
you!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar